Pendidikan Pemustaka di Sekolah, Tidak Sekedar Promosi Perpustakaan Saja

Liburan telah usai, lembaran baru setelah kenaikan kelas segera dimuali. , Kebayang gak dengan siswa baru. Masuk ke perpustakaan kalian. Apalagi anak-anak kelas satu SD, masuk tanpa dibekali dengan aturan main perpustakaan . Biasanya kebigungan melanda siswa yang belum pernah berkunjung, dan parahnya  malah menjadikan perpustakaan bak“kapal mau tenggelam” dan meninggalkan puing-puing (buku-buku berhamburan) tanpa rasa bersalah. Belum lagi pertanyaan mereka tentang cara pinjam buku, bisa jadi waktu  habis untuk melayani pertanyaan siswa.  
Nah, disini petingnya pendidikan pemustaka di sekolah, tidak sekedar mempromosikan perpustakaan, tapi menjadikan peserta didik lebih pinter (bijak) untuk memanfaatkan perpustakaan.
Sebelum masuk ke materi, bangun pandangan siswa tentang perpustakaan terlebih dahulu. Jauhkan pendapat anak bahwa perpustakaan sebagai gudang buku. Ajak siswa berimajinasi tentang masa depan, seperti apa cita-cita anak? Siapa mau jadi dokter, pilot, isinyur, pemusik, pemain bola boleh juga. Tanya juga barangkali ada yang mau jadi pustakawan (promosi boleh juga). Nah, dari jawaban siswa kembangkan menjadi motivasi, bahwa kalau mau mewujudkan cita-cita baca buku tentang cita-cita meraka di perpustakaan. Ingat, buku tentang cita-cita bener-bener tersedia lho ya.
Selanjutnya, materi yang diberkan tidak terlalu panjang lebar, karena bentuknya baru pengenalan. Pertama  kenalkan aturan umum perpustakaan kalian misalnya jam buka layanan, presensi kehadiran, aturan selama berada diperpustakaan (menjaga sikap agar tidak mengganggu pengunjung lain), jangan lupa kenalkan diri sebagai pustakawan yang akan menemani siswa selama di perpustakaan. (INGAT: jangan sekali-kali menyebutkan bahwa kita penjaga perpustakaan, jika tidak ingin di juluki penjaga perpus)
Kedua, koleksi perpustakaan.  Banyak jenis koleksi perpustakaan sekolah selain buku juga ada koleksi dalam format lain, seperti globe, peta, koleksi audio visual. Khusus untuk koleksi buku, bisa dikenalkan koleksi fiksi dan non fiksi, mana yang hanya dibaca di perpustakaan dan yang dapat dipijam di bawa pulang.
Ketiga, Layanan perpustakaan. Jika ada berbagai macam layanan, jelaskan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Layanan umum tentang peminjaman dan pengembalian buku, seperti berapa lama peminjaman, buku yang bida dipinjam, bagaimana jika terlambat atau buku hilang, di meja mana harus meminjam dan mengembalikan.  Selain itu, siswa dapat mengerjakan tugas dari guru mereka, atau bisa belajar membaca (bagi siswa yang belum lancar dalam membaca)
Luangkan waktu 15-20 menit saja untuk pendidikan pemustaka, mengapa? Siswa akan bertahan untuk mendengarkan 10 sampai 15 menit saja.
Pendidikan pemustaka sebaiknya dilakukan dalam ruang perpustakaan, bukan di ruang kelas agar siswa dapat merasakan langsung suasana perpustakaan. Tidak perlu waktu yang lama, siapkan materi dalam berbagai bentuk, bisa slide power point jika perpustakaan ada layar proyektor dan LCD. Bisa juga berupa big book  kreasi buatan pustakawan, atau apa saja yang penting  memikat perhatian siswa.
Simple saja, efeknya luar biasa.. Membawa siswa ke lorong rahasia perpustakaan.
Salam Literasi !

Referensi:
Berdasarka pengalaman penulis menemani siswa di perpustakaan sekolah 
gambar : https://au.pinterest.com/explore/library-skills/?lp=true



Komentar