Postingan sebelumnya kita telah membahas
tentang pendidikan pemustaka untuk siswa. Kali ini kita akan bahas secara
sederhana tetang pendidikan pemustaka untuk guru. Masih sangat jarang bahkan bisa dikatakan belum ada pelaksanaan dilakukan di sekolah. Padahal
ini sama pentingnya pendidikan pemustaka untuk siswa. Seorang guru baru
hadir di sebuah sekolah sama halnya siswa baru yang masih awam di lingkungan
baru, termasuk didalamnya perpustakaan. Pandangan guru terhadap perpustakaan
dimana mereka bekerja menjadi tempat menyediakan buku bagi siswa saja, tanpa
tahu peran lebih mendalam sebuah perpustakaan.
Pertanyaan saya, apakah Anda sebagai
pustakawan di sekolah pernah melakukan pendidikan pemustaka untuk guru?
Meski tujuan sama, namun materi yang
disampaikan tentu memiliki perbedaan. Permasalahan utama perpustakaan sekolah
di Indonesia terletak pada koleksi, khususnya untuk guru. Namun bukan hanya
koleksi saja yang dapat kita sampaikan, masih banyak kueunggulan yang dapat
kita sampaikan kepada guru.
Pertama, sama bangun paradigma tentang perpustakaan, jika Anda terkendala denga sarana perpustakaan. Bangunlah image Anda sebagai seorang pustakawan, kemampuan di dalam berkolaborasi dalam pembelajaran. Citra Anda terbentuk karena inovasi dan bagaimana cara membangun kemitraan dengan guru dan kepala sekolah.
Kedua,
Koleksi perpustakaan. Anda harus memiiki kepiawaian dalam pembelajaan, seperti
mengetahui kurikulum yang sedang berjalan, dimana posisi perustakaan dalam
mendukung kurikulum. Sebagai contoh, koleksi apa saja yang dapat memotivasi
siswa dalam mengikuti materi pelajaran di kelas. Tunjukkan koleksi yang dapat
mendukung guru dalam memberikan materi pelajaran.
Ketiga,
pembelajaran kolaborasi. Model ini sudah biasa dilakukan di sekolah luar
negeri. Integrasi materi dengan penelusuran sumber daya informasi perpustakaan,
misalnya dalam pelajaran bahasa muatan
pemahaman bacaan dengan mencari sinonim kata. Pustakawan dapat tawarkan teknik
penggunaan kamus yang efekif. Di kelas tinggi ketika siswa harus melengkapai
materi seperti metamorfosis, ajaklah siswa menggunakan ensiklopedi dan petunjuk
menggunakan atlas dan indeks, bahkan materi tentang plagiarisme. Dengan
demikian guru akan lebih ringan dalam kegiatan teknis penelusuran materi di
berbagai sumber.
Keempat,
Layanan penelusuran internet. Tuntutan dalam penyampaian materi di semua
tingkatan sekolah memerlukan kreatifitas dalam menyampaikan materi. Tidak semua
guru mempunyai materi atau selalu mengikuti pelatiha peningkatan profesi. Satu-satunya
informasi yang mudah dan cepat didapatkan dengan internet. Guru perlu memiliki
keterampilan dalam mengakses informasi. Pustakawan tentu memiliki kompetensi
dalam berliterasi informasi. Tularkan ilmu Anda kepada guru, dalam acara santai
di perpustakaan.
Kelima,
Layanan kemitraan. Tentu setiap sekolah atau guru memiliki kegiatan dalam
meningkatkan prestasi siswa. Pustakawan dapat terlibat langsung dalam kegiatan
sesuai dengan kompetensi. Contoh kecil, dalam pembinaan bakat dan prestasi
siswa. Layanan kemitraan lain dapat berupa penyimpanan koleksi digital. Guru
yang memiliki materi digital dapat menyimpan di perpustakaan dan dapat menjadi koleksi
untuk kepentingan pembelajaran.
Jadikan perpustakaan sekolah menjadi katalisator
pengetahuan siswa. Semoga Anda menjadi pustakawan yang berperan menjadi simpul
literasi di sekolah. Semoga catatan pengalaman penulis menjadi inspirasi dalam
memajukan perpustakaan sekolah.
Salam Literasi.
Sumber gambar:
https://elementarylibrarian.com/evolving-role-school-librarian/

Komentar
Posting Komentar