Bukan
semata merawat buku
Utama
menghidupkan semesta ilmu
Menemani
mereka yang sedang menjalani pencarian
Menjadi
saksi tumbuh yang mekar-mekar peradaban
Kepada
Pustakawan yang merawat dan mencintai buku
Hormat
kita selayaknya tertuju
Kepada
pustakawan yang tekun dan mengabdi
Harapan
kita sungguh terperi
Sajak-sajak
indah sengaja saya tuangkan dalam tulisan ini. Sajak indah yang dituliskan oleh
Duta baca Indonesia Najwa Sihab. Dua bait sajak yang cukup mewakili sebuah
profesi yang selama ini tidak banyak dikagumi layaknya profesi lain di negara
ini. Pustakawan bukan profesi primadona di jenjang perguruan tinggi. Namun
akhir-akhir ini namanya mulai mengemuka ketika pemerintah membumikan literasi
sebagai tuntutan menyiapkan ketrampilan abad 21. Tuntutan mencetak insan
pembelajar mandiri dan inovatif. Berbagai penelitian tentang keberaksaraan atau
terkenal dengan nama literasi ini menunjukkan hasil yang mencengangkan. Semua
survey literasi bangsa ini selalu berada di level bawah. Realise terakhir
oleh World’s
Most Literate Nations Ranked tahun
2016 berdasarkan hasil survey tentang jumlah sirkulasi surat kabar, kepemilikan
komputer untuk akses di rumah dan jumlah
perpustakaan di sebuah negara. Indonesia lagi-lagi berada di posisi buncit
yaitu peringkat 60 dari 61 negara. Hal yang mencengangkan posisi ini berada di
bawah negara tetangga Malaysia, bahkan Thaliand. Hasil survey ini semakin
menelanjangi kondisi dan prilaku masyarakat Indonesia yang jauh dari dunia
pengetahuan untuk meningkatkan taraf hidup secara masiv.
Terpuruknya
survey literasi ini, membuat pemerintah tak tinggal diam. Bak sedang menghadapi
darurat literasi, di tingkat sekolah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi program
unggulan untuk menyelesaikan masalah, paling tidak menaikkan level peringkat
literasi.
Kembali
pada sajak Najwa di atas, rasanya semua isi hati Saya tumpah tercurah. Sajak
yang mewakili hati Saya dan teman-teman satu profesi dalam ikatan pustakawan
sekolah. Jauh sebelum pemerintah melancarkan program GLS, dengan tertatih-tatih
membumikan budaya literasi demi mencerdaskan anak negeri. Kami berjuang dengan dukungan
jauh dari kata maksimal oleh ekosistem sekolah. Perpustakaan yang seyogyanya
menjadi pusat berkembangnya peradaban pengetahuan, hanya berfungsi sebuah
bangunan pelengkap penilaian administrasi semata. Parahnya, perpustakaan
ditempatkan di sebuah ruang sisa yang sempit, di pojok sekolah jauh dari
jangkauan siswa.
Pustakawan bukan hanya menjaga sebuah gedung,
menunggu pengunjung datang meminjam buku, bukan sekedar merawat, menyampul dan
menata buku ke dalam deretan panjang rak-rak kayu kecoklatan. Pustakawan
menjadi bagian sinergi sebuah simpul literasi sekolah untuk membentuk insan
berkarakter berwawasan global, pembelajar mandiri dan berkemajuan.
Perpustakaan
bukan lagi menjadi barisan pertama untuk dikorbankan. Pimpinan sekolah hendaknya
menyadari dan mau berkaca dengan berbagai penelitian bahwa keberadaan perpustakaan
mampu meningkatkan prestasi siswa. Sekolah-sekolah mengandalkan perpustakaan
sebagai fasilitas utama pembelajaran, menunjukkan peningkatan pertumbuhan siswa
khususnya di bidang keaksaraan, literasi informasi, ketrampilan teknologi.
Pertama
kali menginjakkan kaki untuk sebuah pengabdian di sekolah dasar, terbersit di
benak saya adalah ruangan bercat abu-abu, penuh buku paket tertata rapi dalam
rak coklat. Kursi dan meja baca study
carel seolah membatasi ruang diskusi siswa, sangat kaku. Namun ternyata
semua salah, bukan ruangan yang kaku dan membosankan seperti perpustakaan SD
pada umumnya. Dinding cerah full colour memberikan nuansa keceriaan khas jiwa
anak-anak. Hamparan karpet dan meja pendek bergambar karakter motivasi seolah
siap menyambut kehadiran siswa untuk membaca sembari duduk lesehan. Perpustakaan
bernuansa hommy semakin memikat anak untuk berlama-lama di dalamnya untuk membaca buku. Beberapa
siswa sedang membaca di sebuah meja berbentuk segi lima berwarna merah
bercorak. Wajah mereka serius, mata mereka bergerak mengikuti barisan kalimat buku
bertuliskan Ensiklopedi Mini. Beberapa
siswa lain melihat buku bergambar sambil sesekali jari mereka menunjukkan
gambar di halaman buku itu, sesekali satu diantara mereka berceloteh, seolah
mengetahui maksud gambar-gambar itu. Di bagian lain perpustakaan, seorang guru
sedang menerangkan materi daur hidup air dengan video interaktif koleksi
perpustakaan.
Pimpinan di sekolah ini seolah mematahkan anggapan tentang pimpinan tidak
memperhatikan fasilitas perpustakaan. Terbukti alokasi anggaran khusus untuk
penambahan koleksi rutin setiap tahun. Tak heran jika koleksi tiap tahun kian
bertambah variasinya. Koleksi fiksi hingga referensi seperti kamus dan
ensiklopedi pengetahuan, terkelola menggunakan sistem perpustakaan yang semakin
memudahkan siswa menemukan bahan bacaan yang dibutuhkan.
Tak berhenti disana, pustakawan sebagai resource agent, menawarkan bahan bacaan
dan informasi kekinian dengan melakukan kerjasama dengan wali kelas dalam
bentuk pojok baca kelas. Jenis bahan bacaan tentu saja disesuiakan dengan
kurikulum yang sedang berjalan. Sirkulasi bahan bacaan dari pojok kelas menjadi
tanggung jawab siswa yang tergabung dalam wadah pustakawan kecil. Mitra
perpustakaan ini akan mengatur bahan bacaan baik dari pinjaman perpustakaan sekolah
atau dari orang tua mereka. Suasana di pagi hari menjadi menyenangkan manakala
di sela-sela mengerjakan latihan pagi diselingi membaca buku. Sadar akan
perubahan prilaku siswa yang semakin menggila, guru kreatif semakin memberikan
kesempatan untuk membaca di tengah jam pelajaran dengan panduan dan kesepakatan
satu kelas. Bersama pustakawan, guru membacakan kisah atau buku sebagai
jembatan materi saat itu.
Perjalanan pustakawan bukan memuseumkan ilmu
pengetahuan. Tugas sebagai agen pembangun pengetahuan mengarahkannya untuk
senantiasa sabar dan telaten membimbing siswa menemukan pengetahuan baru
melalui sumber daya yang tersedia. Layaknya seorang pedagang, pustakawan harus
mempromosikan sumber informasi pengguna tertarik mamanfaatkan. Pedangang yang
tidak mengambil “keuntungan.”
Tangan hangatnya seolah memberikan ketenangan
setiap orang yang mengalami kepanikan dunia informasi. Ketika siswa datang
berbondong-bondong menyelesaikan tugas dari kelas yang harus selesai hari itu
juga, pustakawanlah yang akan membantu menenangkan kepanikan siswa. Ya, bisa dikatakan sebagai agen penolong (rescue agent) ketika mencarikan sumber
bacaan dengan cepat dan tepat. Ibarat berada di tengah padang pasir, dahaga
mereka terobati dengan kesigapan agen penolong ketika mencarikan air. Jika
boleh meminjam slogan pegadaian, pustakawan mampu menyelesaikan masalah tanpa
masalah.
Ciri pembelajaran abad 21 ditekankan pada
proses belajar. Siswa lebih aktif untuk mencari jawaban setiap permasalahan. Sadar
atau tidak anak-anak terbiasa dengan
konekasi teknologi informasi. Lorong-lorong maya sebaiknya mulai diperkenalkan
sebagi sumber informasi selama pembelajaran. Masalahnya,
selama ini tidak ada bekal ketrampilan dalam berselancar mencari sumber
rujakan, seperti menggunakan ensiklopedi, menggali informasi internet secara
tepat, hingga mengevaluasi informasi yang benar-benar dapat menjawab
permasalahan siswa.
Kenyataannya,lain, pembelajaran selama ini belum mampu
mendekatkan siswa terhadap berbagai sumber bacaan untuk menyelesaikan tugas
dari guru. Parahnya, jika ada pembelajaran memanfaatkan perpustakaan, karena mengisi kekosongan jam pelajaran.
Akibatnya, anak akan memiliki mindset
perpustakaan menjadi tempat kedua ketika jam kosong.
Berdaya tidaknya perpustakaan dalam mendukung kurikulum
bergantung pada tangan dingin pustakawan ketika menyediakan resource, database, alamat web yang pantas dibaca siswa dan sesuai pelajaran. Menurut
seorang ahli informasi Ida Fajar mengatakan, pustakawan bermain menjadi
jembatan gaps antara siswa dan guru, informasi online dan kurikulum.
Kepiawaian seorang pustakawan menjadi agen
mengembangkan literasi informasi terlihat ketika menemani para peselancar
informasi hingga menemukan pengetahuan baru. Tahapan pembelajaran bisa
dikembangkan menjadi salah satu model pembelajaran kolaborasi apik antara guru
dan pustakawan. Materi ketrampilan menggunakan sumber rujukan dapat disisipkan
ke dalam silabus pembelajaran. Model kolaborasi ini menjadi sangat efektif
untuk meningkatkan level literasi, dari sekedar pembiasaan membaca di kelas.
Permasalahan
literasi menjadi “gawe” besar pemerintah. Gerakan Literasi Sekolah menjadi
salah satu ikhtiar pemerintah dalam menangani
masalah literasi di sekolah. Sukses dari sebuah usaha tentu dibarengi
dengan dukungan berbagai pihak dari pemerintah hingga ekosistem sekolah
sendiri.
Berbicara masalah literasi bukanlah hal mudah diterapkan,
bukan sekedar mengetahui bagaimana cara membaca. Literasi membutuhkan kombinasi
ketrampilan dan pengetahuan siswa dalam membedakan pesan yang benar-benar
dibutuhkan, untuk kemudian dikembangkan sesuai pengalaman pribadi menjadi
pengetahuan baru. Pustakawan memiliki peran dalam mentranfer pengetahuan
melalui sumber bacaan. Pustakawan bukan lagi sebagai penjaga ruangan berisi
deretan buku dalam sebuah sistem, tanpa
usaha menyampaikan khasanah peradaban pengetahuan. Jika tugas mereka masih
memuseumkan sumber bacaan, sama
saja membiarkan ilmu pengetahuan mengendap dan tidak berkembang.
Kesiapan pustakawan diuji untuk menemukan kembali
tantangan dalam transformasi perpustakaan sekolah, menciptakan hubungan pembelajaran, inovasi, dan penciptaan pengetahuan
yang berorientasi pada generasi pembelajar mandiri.
Secara
kualifikasi pendidikan pustakawan tentu memiliki bekal dan pengetahuan untuk
mempromosikan semua sumber daya perpustakaan. Namun tantangan sekarang
bagaimana andil dalam mempersiapkan
generasi melenial yang inovatif. Pustakawan berperan menjadi simpul literasi
bersama ekosistem sekolah lainnya. Jika simpul digambarkan sebagai kumpulan tali
yang melebur menjadi satu ikatan, maka permasalahan tentang literasi di sekolah
ini akan mudah dipecahkan. Sinergi dalam ekosistem sekolah menjadi sebuah power mewujudkan generasi pembelajar
mandiri dan inoatif.
Lagi
saya kutip sajak indah Najwa Sihab, sebagai penegas bahwa pustakawan bukan
sekedar penjaga buku namun pengabdi ilmu pengetahuan dan menjadi simpul
literasi, menuju generasi pembelajar sepanjang hayat.
…….Jika
bangsa yang besar selalu menghormati pahlawan
Bangsa
yang maju niscaya menghargai pustakawan
Sebab
menjadi pustakawan adalah kehormatan
Pustakawan
mengabdi pada ilmu pengetahuan
Karena
literasi kunci menjadi berdaya
Panjang
umurlah semua pegiat pustaka
sumber gambar :
http://www.buffalo.edu/gse/online/programs/masters/sl.html
https://id.pinterest.com/jreinke23/school/?autologin=true
http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data
Komentar
Posting Komentar