PUSTAKAWAN WAJIB TAU , 3 Hal Dalam GLS



Literasi sering dikaitkan dengan kegiatan membaca. Membaca dapat membuka jendela dunia. Artinya dengan membaca dapat membuka cakrawala ilmu pengetahuan. Membaca merupakan ketrampilan dasar dalam proses belajar, untuk meningkatkan potensi dan kualitas seseorang dalam kehidupan. Ukuran keberhasilan siswa berhasil di sekolah dan lingkungannya adalah, jika siswa dapat membaca dan mengerti makna bacaan dalam berbagai bentuk.
Tulisan ini bermula, ketika penulis sering mendapat pertanyaan dari rekan sesame profesi pustakawan. Tentang GLS dan apa peran pustakawan dalam program pemerintah ini.
Gerakan literasi membaca atau yang sering kita kenal sebagai GLS, memberikan dampak terhadap program sekolah. Namun yang menjadi salah kaprah, ketika GLS hanya dikaitkan dengan pelaksanaan 15 menit membaca sebelum pembelajaran dimulai, dengan buku bacaan non pelajaran. Terdapat tahapan yang perlu diketahui oleh para pustakawan

Pembiasaan
Nah, program dari 15 membaca ini termask dalam tahapan pembiasaan. Selain itu program pembiasaan berupa penyediaan sarana dan prasarana pendukung GLS ini. Seperti penyediaan pojok baca di area public sekolah (UKS, ruang tunggu, perpustakaan, pojok baca di UKS, perpustakaan kelas). Pengembangan sarana literasi dibutuhkan sumber daya yang memadai. Partisipasi komite sekolah, orangtua, alumni, dan dunia bisnis dan industri dapat membantu memelihara dan mengembangakan sarana sekolah agar capaian literasi peserta didik dapat terus ditingkatkan

Pengembangan
Kegiatan literasi pada tahap pengembangan bertujuan untuk mempertahankan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca, serta meningkatkan kelancaran dan pemahaman membaca peserta didik. Kegiatan yang bisa dilakukan dengan pmemberikan apresiasi kepada siswa. Penghargaan berbasis literasi ini menekankan kepada proses belajar dan membaca, bukan pada keterampilan dan kualitas karya semata. Menghargai proses belajar peserta didik terbukti dapat menumbuhkan motivasi belajar dan memupuk semangat ingin tahu mereka. Selanjutnya, motivasi ini dapat membantu kesuksesan akademik peserta didik dalam jangka panjang dan menjadikan mereka pembelajar sepanjang hayat. Penghargaan berbasis literasi dapat diberikan secara berkala setiap minggu (pada upacara Hari Senin), setiap bulan, atau setiap semester. Kegitan itu bisa berupa Pemustaka teladan, bagi peserta didik yang paling rajin mengunjungi perpustakaan dan meminjam buku perpustakaan, Pencerita bulan ini, bagi peserta didik yang dapat menceritakan ulang sebuah cerita dengan orisinil dan kreatif

Pembelajaran
 Tidak perlu tergesa-gesa melaksanakan tahapan ini, lakukan tahapan yang pembiasaan dan pengembangan terlebih dahulu. Tahap pembelajaran dapat dilakukan setelah iklim pembiasaan siswa akan lingkungan literat baik.
Gambaran tahapan ini lebih diperankan oleh guru. Guru dapat berkolaborasi dengan pustakawan untuk melakukan pembelajaran teintegrasi. Target tahap pembelajaran meningkatkan kemampuanberbahasa reseptif (membaca dan menyimak) dan aktif (berbicara dan menulis)
yang dijelaskan secara rinci dalam konteks dua kegiatan utama di tahap ini, yaitu membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis dijenjangkan agar peningkatan kecakapan di empat area berbahasa tersebut (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis) dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Jenjang kemampuan membaca dan menulis dibagi dalam tiga tingkatan: awal, pemula, dan madya, yang merentang dari SD kelas rendah ke kelas tinggi.

GLS merupakan upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat

Salam litearsi


Referensi
Buku Panduan Gerakan literasi sekolah,oleh  Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar &Menengah Kementerian Pendidikan & Kebudayaan Tahun 2016

Foto : koleksi penulis

Komentar

  1. setahu saya literasi tdk hanya membaca..sebenarnya adalah melek akan sesuatu atau memahami sesuatu..ada literasi IT, literasi hitung, bahkan literasi akan medsos..kalau hanya dikaitkan dg baca tulis akan menyempitkan makna literasi itu sendiri...

    BalasHapus
  2. setahu saya literasi tdk hanya membaca..sebenarnya adalah melek akan sesuatu atau memahami sesuatu..ada literasi IT, literasi hitung, bahkan literasi akan medsos..kalau hanya dikaitkan dg baca tulis akan menyempitkan makna literasi itu sendiri...

    BalasHapus
  3. Betul sekali pak. Makna Literasi sangat kompleks. Tdk sekedar membaca. Maka saya tulis "Namun yang menjadi salah kaprah, ketika GLS hanya dikaitkan dengan pelaksanaan 15 menit membaca sebelum pembelajaran dimulai, dengan buku bacaan non pelajaran" Namun dalam konteks referensi buku di atas mengarah literasi informasi pada tataran teknis membaca utk pembiasaan, pengembangan, dan Pembelajaran.
    Karena ini sasaran tulisan ini pustawakan maka mengarah ke Literasi Informasi yg di dalamnya termasuk kamampuan membaca

    BalasHapus

Posting Komentar